Innalillahi, KH Moh Chizni Umar Burhan Wafat, Dedikasinya Jaga Arsip NU Jadi Teladan

Media Ansor Sidayu-Kabar duka datang dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), khususnya warga Nahdliyin di Gresik, Jawa Timur. KH Moh Chizni bin KH Umar Burhan wafat pada Rabu, 15 April 2026 sekitar pukul 13.30 WIB di RSU Wonosobo.

Almarhum merupakan putra dari KH Umar Burhan, yang dikenal sebagai sekretaris pribadi KH M Hasyim Asy’ari. Sepanjang hidupnya, Kiai Chizni dikenal sebagai sosok yang tekun menjaga dan merawat berbagai dokumen bersejarah NU, mulai dari naskah tulisan tangan, kumpulan pidato, hingga arsip penting lainnya.

Ia juga menjadi penjaga berbagai dokumen berharga, termasuk surat asli dari Komite Hijaz kepada Raja Ibnu Saud. Seluruh koleksi tersebut dihimpun dan dirawat di Rumah Arsip NU yang berada di Gresik.

Informasi wafatnya Kiai Chizni dengan cepat menyebar melalui berbagai grup WhatsApp dan media sosial. Dalam pesan yang beredar, disampaikan doa dan harapan terbaik bagi almarhum agar diampuni segala kesalahannya, diterima amal ibadahnya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan.

Semasa hidupnya, Kiai Chizni dikenal memiliki dedikasi tinggi dalam menjaga arsip NU. Ia melanjutkan perjuangan sang ayah dalam merawat berbagai dokumen dan artefak bersejarah, meskipun membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Abdurrahman Wahid bahkan pernah menyebut KH Umar Burhan sebagai “Disket NU”, sementara tokoh NU lainnya menjulukinya sebagai dokumentator sekaligus arsiparis NU. Hal ini disampaikan oleh H Edy M Ya’qub saat berkunjung ke Rumah Arsip NU di Gresik.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan PWNU Jawa Timur disambut langsung oleh Kiai Chizni bersama keluarga. Ia menegaskan bahwa pengelolaan arsip membutuhkan kesungguhan dan dukungan pembiayaan yang memadai.

Kiai Chizni juga pernah menyampaikan harapannya agar pengelolaan arsip NU tidak hanya bersifat pribadi, tetapi dapat dikembangkan secara kelembagaan agar lebih terstruktur dan berkelanjutan. Ia bahkan mendorong pembentukan tim khusus agar pengelolaan arsip dapat dipertanggungjawabkan secara profesional.

Kiai Chizni lahir di Gresik pada tahun 1955 dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di kawasan Pekelingan, tidak jauh dari Masjid Jami’ Gresik.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, sekaligus kehilangan besar bagi upaya pelestarian sejarah dan khazanah intelektual Nahdlatul Ulama.